Umi

Kantorku mulai bulan ini memberikan fasilitas fitness sekali seminggu untuk karyawan yang mau. Tempatnya di sebuah fitness centre di sekitar Jl. Caringin, tidak jauh dari Harmoni tempat kantorku berada. Fasilitas yang diberikan berupa jadwal latihan fitness atau senam dan instruktur. Instrukturnya seorang anak muda yang supel dan energik, Ojie, orang biasa memanggilnya. Nama sebenarnya kami tidak tahu.

Sebulan kami sudah menikmati fasilitas itu. Memang ada perbedaan yang kurasakan. Badanku lebih fit dan segar. Otot-ototku belum memang belum menunjukkan kemajuan, namun aku merasa lenganku sekarang lebih kencang dan keras.

Sepulang kerja aku dan beberapa teman sudah berada di lokasi fitness centre. Sore ini jadwal kami untuk menggunakannya. Kami sudah berganti pakaian dan siap di ruang latihan. Ojie bersama seorang wanita yang belum kukenal sebelumnya mendatangiku dan berkata.

"Maaf Pak Anto, sore ini saya ada acara lain, kalau ada sesuatu keperluan sampaikan saja pada Mbak Umi, teman saya ini. Mbak kenalkan ini Pak Anto dan rekan-rekan kantornya, Pak ini Mbak Umi".
Kuulurkan tanganku pada wanita tadi, "Saya Anto".
"Umi", jawabnya singkat.
"Baiklah Pak dan Mbak Umi, saya mohon diri. Have a nice day", kata Ojie sambil meninggalkan kami.
"Silakan kalau mau mulai berlatih, Bapak dan Ibu semua. Kalau ada sesuatu atau perlu bantuan saya ada disini menemani berlatih", kata Umi ramah.

Kamipun masing-masing mulai mengambil posisi berbagai alat latihan. Dari kaca di dinding kuperhatikan instruktur baru ini. Wajahnya sederhana, tidak terlalu cantik dalam artian kulitnya tidak terlalu putih, bibirnya sedang, malahan cenderung agak tebal. Giginya sedikit gingsul di bagian kanan. Kalau mengenai badannya, namanya saja instruktur fitness dan senam, pasti oke punya dong. Kupikir-pikir kalau ada lomba mirip Rita Sugiarto ia ada harapan untuk memenangkan kontes.

Aku pernah membaca sebuah artikel yang membahas sifat seseorang melalui bentuk tubuh dan ciri-ciri fisik, bentuk tubuh dan muka seperti Umi ini memiliki gairah nafsu yang tinggi. Mulanya ia akan malu-malu dan seakan-akan menolak, namun kalau sudah terpancing nafsunya, hmm, ia akan memperlakukan pasangannya seperti seekor singa betina. Oh ya, gelang emas yang melingkar di pergelangan kakinya semakin meyakinkanku.

Entah mengapa setiap melihat wanita yang memakai gelang kaki, ada sesuatu yang meletup-letup padaku. Dari hasil pengamatanku, aku berpendapat bahwa wanita yang mengenakan gelang kaki, meskipun ia tidak terlalu cantik, namun mempunyai pesona dan gairah seksual yang luar biasa.

Waktu latihan habis dan kamipun berkemas-kemas untuk pulang. Kulihat ia masih berada di ruang latihan belum ganti pakaian.

"Lho belum pulang Mbak?" tanyaku sambil sekilas melirik belahan dadanya.

Ia mengenakan pakaian fitness yang ketat sehingga di bagian atas belahan dadanya terlihat jelas. Ia tersipu-sipu begitu tahu aku melirik dadanya.

"Ah Bapak ini, belum. Saya masih harus melatih senam aerobik di lantai 2," katanya.
"Kalau begitu kami pulang dulu. Terima kasih untuk latihan sore ini," aku mohon diri karena kulihat teman yang lain juga sudah siap untuk pulang.
"Sama-sama Pak, selamat jalan. Hati-hati di jalan. Kalau ada mobil jangan ditabrak," katanya sambil sedikit bercanda.

Demikianlah pada minggu-minggu berikutnya kalau Ojie lagi tidak ada, Umi yang menunggui kami berlatih. Orangnya cukup sabar dan murah senyum. Setiap kali Umi menunggui kami berlatih, aku coba dengan berbagai cara untuk memancing perhatiannya. Namun ia kelihatannya tidak terlalu menghiraukan, kami semua diperlakukan sama. Ia hanya menganggap kami semua hanya sebatas hubungan instruktur dan peserta saja.

Suatu ketika setelah selesai latihan aku merasa lapar sekali. Teman-teman yang lain tidak ada yang mau menemani makan di kantin di lantai bawah fitness centre. Ruang fitness ada di lantai 3, ruang senam ada di lantai 2 dan di lantai 1 ada kantin dan kantor.

Aku masuk ke dalam kantin. Kulihat mejanya terisi semua, tapi ada satu meja di sudut yang hanya dipakai satu orang wanita. Aku tidak begitu memperhatikan wanita yang duduk di meja tersebut. Setelah menarik kursi, aku baru sadar ternyata Umi yang ada di situ. Ia juga agak terkejut melihatku muncul di depannya.

"Sendirian Mbak Umi? Boleh saya duduk di sini?" sapaku. Ia hanya mengerakkan telapak tangannya memberi isyarat menyilakan aku duduk.
"Sudah selesai latihannya Pak? Mana teman-temannya?"
"Nggak ada yang mau diajak makan. Heran, diajak makan saja pada nggak mau. Gimana kalau diajak kerja ya?"
"Bapak bisa aja".

Aku memesan cap cay. Sambil menunggu kami mulai mengobrol tentang kondisi Jakarta belakangan ini. Wawasannya luas. Dari raut muka dan matanya kelihatannya ia seorang yang cerdas. Smart. Aku baru saja menemukan sex appealnya. Kecerdasan otak yang ditunjang dengan bodinya membuat ia kelihatan seksi dan, so charming. Selama ini hanya bodynya saja yang kulihat dan rasanya tidak ada yang istimewa bagiku. Bodynya bukannya tidak bagus, namun aku belum menemukan sisi yang istimewa. Sekarang inilah aku berpendapat bahwa ia seorang yang menarik.

"Lama juga ya cap cay-nya. Hhh!" keluhku.
"Sabar saja pak, maklum sore ini pengunjungnya banyak".

Tidak berapa lama pesananku datang.

"Mari, saya makan," kataku berbasa-basi.
"Terima kasih Pak. Silakan, saya sudah. Emm.. Maksud saya, saya hanya minum saja. Haus. Tadi habis melatih senam".

Ia memperhatikanku menambahkan lada putih ke dalam capcayku. Setelah itu aku masih minta cabe rawit beberapa butir pada pelayan. Ia tersenyum kecil.

"Biasanya orang yang kuat makan pedas nafsunya gede," komentarnya.
Aku hampir tersedak mendengarnya. Namun kemudian aku menguasai diri, kuminum air putihku dan kujawab, "Kalau ada sambal atau cabe memang nafsu makan jadi kuat".

Ia tertawa tertahan. Aku tersenyum sambil memandang deretan giginya yang rapi dan, oh gingsulnya kelihatan.

Kubalas godaannya tadi,"Orang yang giginya gingsul kudengar juga gede nafsunya".

Ia hanya tersipu-sipu tanpa bisa membalas godaanku. Nah lo, skor 1-0!

"Bapak ini paling bisa kalau menjawab," akhirnya ia berucap.

Tampaknya kami cepat menjadi akrab, serasa sudah lama saling mengenal. Umi kelihatannya tidak keberatan kalau kupanggil namanya saja dan akupun memintanya supaya memanggil namaku saja, tanpa tambahan embel-embel yang hanya untuk alasan kesopanan. Umurnya lima tahun di atasku, sekitar tigapuluh tahun. Ia berdarah Jawa-Madura. Bapaknya Surabaya, ibunya Madura.

Setelah selesai makan kami masih duduk sebentar dan kubayar sekalian minumannya. Ia mengucapkan terima kasih.

"Sekarang mau kemana? Masih ada skedul latihan?" tanyaku sambil berjalan.
"Nggak. sudah habis untuk hari ini," jawabnya.
"Saya juga mau pulang. Umi pulang ke mana?" Ia menyebutkan alamat rumahnya.
"Kalau begitu nanti kuantar saja. Jam segini susah cari mobil dan lagian.. Mau hujan," kataku sambil melihat ke atas.

Kebetulan sore ini akau bawa mobil kantor untuk berangkat fitness rame-rame dari kantor. Awan gelap memang terlihat menaungi Jakarta. Kami berjalan ke pelataran parkir sambil berlari-lari kecil karena gerimis sudah turun. Kubuka pintu depan sebelah kiri, ia masuk dan akupun segera masuk dan kami berangkat pulang. Ternyata hujan tidak jadi turun. Kuantarkan ia sampai pintu rumahnya.

"Rumahmu kok sepi Um?" tanyaku.
"Iya pak. Saya tinggal sendirian setelah bercerai dengan suami saya".
"Upps, Sorry. Bukan maksudku.." kataku minta maaf kalau telah mengorek masa lalunya.
"Nggak apa-apa To. Yaah inilah kenyataan yang harus kujalani," katanya lirih.

Aku tak mau berlama-lama membahas soal ini, takut ia menjadi sedih. Segera aku berpamitan pulang.

"Nggak masuk dulu?"
"Terima kasih, sudah gelap. Nanti kemalaman sampai di rumah. Lain kali kamu kuantar lagi. Boleh kan?" kataku.
"Ternyata kamu punya takut juga. Takut kemalaman," katanya sambil tertawa kecil. Keceriaannya sudah kembali lagi. Akupun masuk ke dalam mobil dan pulang.

Minggu depannya aku menjadi akrab dengan Umi. Teman-temanku sendiri tidak heran lagi melihat keakrabanku dengan Umi. Di kantor aku dikenal sebagai orang yang bisa bergaul dengan semua orang, baik dengan atasan bahkan dengan big boss, dengan rekan yang setingkat dan sampai dengan office boy sekalipun. Prinsipku sederhana saja. Dengan orang yang lebih tua kuanggap sebagai orang tua atau kakak dan dengan orang yang lebih muda kuanggap dia sebagai adik.

Dua minggu kemudian aku mengantarnya lagi dalam keadaan hari hujan lebat sehingga kuantar dia masuk ke rumahnya dengan berpayungan berdua. Karena hujan lebat disertai dengan angin kencang tak urung pakaian kami sedikit basah. Kali ini ia memaksaku masuk.

"Masuk dulu, tak bikinin minuman anget dhisik!" katanya dengan logat Jawa Timur yang kental.

Tidak biasanya dia menggunakan logat Jawa Timurnya. Aku masuk ke dalam rumahnya. Duduk di ruang tamu. Aku menggosokkan kedua telapak tanganku untuk mengusir dingin. Hujan di luar belum reda.

Umi masuk ke dalam, mengganti bajunya yang basah dan sebentar kemudian sudah keluar lagi dengan kaus dan celana pendek longgar. Tidak lama dari ruang dalam terdengar instrumen lagunya The Police yang dimainkan dengan aransemen orkestra oleh London Philharmonic Orchestra. Kakiku bergerak mengikuti ketukan lagu dan mulutku menggumam bernyanyi. Di tangannya ada kaleng biskuit. Aku menelan ludah berharap ia membungkuk sehingga aku bisa mengintip isi kaus longgarnya.

Ia meletakkan kaleng biskuit di atas meja dengan merendahkan lututnya tanpa membungkuk. Harapanku melihat dua gunung kembarnya berlalu sudah. Tapi kuperhatikan dadanya yang tetap terlihat membusung di balik kaus longgarnya.

Pikiran ngeres tiba-tiba muncul. Selama ini aku sekedar ingin akrab saja tanpa ada keinginan untuk macam-macam. Kalapun ada perasaan hanyalah rasa senang memandang tubuh yang aduhai. Kalau pas tegangan lagi naik, maka kusalurkan dengan wanita-wanita yang kukenal sebelumnya. Paling tidak dua minggu sekali pasti Yanti, Kuda Sumbawaku selalu menelponku ke kantor minta untuk kubawa berpacu (Ingat Wanita Indonesia 7?).

Tapi kali ini berbeda. Mungkin karena situasi di dalam rumah dan udara dingin. Makanya betul juga kata orang. Persetubuhan bukan hanya terjadi karena niat pelakunya saja, namun juga karena adanya kesempatan. Waspadalah.. Waspadalah! Walaupun ada niat tapi kalau keadaan sekitarnya tidak memungkinkan?

"Minumannya sebentar lagi ya. Airnya lagi dimasak. Termosnya pas kosong. Mau minum apa?"

Aku terkejut.

"Ahh.. E.. E. Eeh. Susu.. Eh.. Teh susu," sambil tergagap kata-kataku keluar begitu saja. Namun disaat terakhir akau masih tetap bisa menguasai diriku.
"Teh saja atau kopi. Susunya habis. Sorry," ia tersenyum melihatku terbata-bata kemudian kembali masuk ke dalam.

Sebentar ia sudah kembali sambil membawa segelas teh panas dan handuk yang disampirkan di pundaknya. Rupanya sudah menjadi kebiasaannya untuk meletakkan sesuatu di atas tempat yang lebih rendah dengan cara merendahkan lututnya. Kemudian dilemparnya handuk ke arahku.

"Keringkan dulu tubuhmu! Nanti masuk angin".

Kusambut handuknya dan kukeringkan rambutku saja. Bajuku memang basah tapi rasanya aku masih bisa memakainya. Ia duduk di depanku. Aku mengambil sepotong biskuit. Ia melihatku dan mencibirkan bibirnya. Tapi dari sinar matanya dia memendam sesuatu. Kuambil sebuah buku dari bawah meja. Kulihat sampulnya dan kubaca dengan suara perlahan, "Asmaragama". Kutatap mukanya memerah dadu seperti mau menangis. Mungkin ia malu aku mengambil bukunya itu. Kunetralisir dengan meletakkan buku tersebut kembali kuganti dengan majalah.

Beberapa saat kemudian aku berpamitan. Di luar hujan masih deras, tapi kupikir biarlah kuterobos saja. Ketika kami sampai di pintu, ia kelihatan ragu mau membukakannya. Air mukanya tiba-tiba saja berubah aneh dalam pandanganku.

"To..!" Ia memegang lenganku. Feelingku mengatakan, "Anto kamu akan dapatkan dia malam ini!"
"Kenapa, kamu mau adu kekuatan cabe dengan gingsul?" tanyaku dengan bergurau. Tiba-tiba saja ia menjatuhkan kepalanya ke dadaku. Kupegang bahunya dan ia berbisik "Temani aku malam ini. Hidupku tiba-tiba terasa hampa.."

Kupeluk dia dan ia semakin merapatkan kepalanya di dadaku. Kubawa dia duduk kembali di sofa. Tapi dia menggeleng.

"Anto, masakan aku sebagai seorang wanita harus mengatakannya secara verbal kepadamu?"
Nada suaranya meninggi. Aku masih menahan diriku. Rasanya aneh kalau selama ini kami akrab tanpa ada suatu keinginan untuk berkencan, tiba-tiba saja malam ini aku harus bergumul dengannya. Ia tidak sabar lagi. Diciumnya pipiku dan tangannya tergesa-gesa membuka kancing bajuku.

"Di kamarku saja..!" katanya.
"Sssh., kamu memang sangat pandai mempermainkan emosiku. Puasin aku. Pandanganku tidak bisa ditipu. Aku sangat yakin kau sangat perkasa di atas ranjang," rintih Umi sambil memejamkan matanya.

Rintihannya terhenti waktu bibirku memagut bibirnya yang merekah. Lidahku menerobos ke mulutnya dan menggelitik lidahnya. Umi mulai menggeliat dan mulai membalas ciumanku dengan meliukkan lidahnya yang langsung kuisap. Tanganku mulai menari di atas dadanya. Kuremas dadanya. Kurasakan payudaranya sangat keras. Jariku terus menjalar mulai dari dada, perut terus ke bawah hingga pangkal pahanya. Umi makin menggeliat kegelian. Lidahku sudah beraksi di lubang telinganya dan gigiku menggigit daun telinganya.

Pelukanku kulepas dan aku bergerak berputar ke belakangnya. Tanganku yang mendekap dadanya dipegangnya erat. Badan dan payudaranya sungguh amat keras. Rambut Umi kucium. Mulutku menggigit tengkuknya. Akulah sang pemangsa dan buruanku kini sudah takluk dalam cengkeraman taringku.

Badannya mulai menghangat. Bibir dan hidungku makin lancar menyelusuri kepala dan lehernya. Umi makin menggelinjang apalagi waktu tanganku meremas buah dadanya yang masih tertutup baju kaus itu dari belakang. Kuletakkan mukaku dibahunya dan kusapukan napasku di telinganya. Umi menjerit kecil menahan geli tapi malah menikmati. Ia mempererat pegangan tangannya di tanganku.

Aku memeluknya dari belakang sambil berjalan ke arah kamarnya. Tangannya ke belakang dan meremas isi celanaku yang mulai memberontak. Setelah masuk ke dalam kamar dilepaskannya tanganku dan ia mematikan lagu instrumen The Police yang diputarnya tadi. Tangannya bergerak-gerak di rak CD, akhirnya diambilnya album lagu barat lama. Ia mematikan lampu besar dan mengantinya dengan lampu tidur. Kulihat sebuah ranjang yang besar telah menanti kami.

Tak lama kemudian nada-nada lagu Michelle memenuhi seluruh kamar. Aku merendahkan badan dan mulai mencium dan menggigit pinggulnya. Ia mendongakkan kepalanya dan berdesis lirih. Sedari tadi kami bercumbu, ia tidak pernah mengeluarkan pekikan atau erangan. Hanya desisan dan desah tertahan sambil gigi atasnya menggigit bibir bawahnya.

Aku dibelakangnya berlutut dengan meneruskan aksi tanganku ke betisnya, sementara bibirku masih bergerilya di lipatan lutut belakangnya. Ia merentangkan kedua kakinya dan bergetar meliuk-liuk. Kucium pahanya dan kuberikan gigitan semut. Ia makin meliukkan badannya, namun suaranya tidak terdengar. Hanya napasnya yang mulai memburu.

Pada saat ia sedang menggeliat, kuhentikan ciumanku di lututnya dan aku berdiri di hadapannya. Kuusap pantat dan pinggulnya. Kembali ia berdesis pelan. Tubuhnya memang padat dan kencang. Lekukan pinggangnya indah, dan buah dadanya nampak bulat segar dengan puting tegak menantang berwarna coklat kemerahan.

Dengan cepat langsung kusapukan bibirku ke lehernya dan kutarik pelan-pelan ke bawah sambil menciumi dan menjilati leher mulusnya. Umi semakin merepatkan tubuhnya ke dadaku, sehingga dadanya yang padat menekan keras dadaku. Bau tubuhnya dengan sedikit aroma deodoran makin menambah nafsuku. Ia menggerinjal dan mulutnya mulai menggigit kancing bajuku satu persatu.

Dengan sebuah tarikan pelan ia melepas bajuku. Ia tertegun melihat dadaku yang bidang dengan bulu dada yang lebat. Diusap-usapnya dadaku dan kemudian putingku dimainkan dengan jarinya. Kucium bibirnya, ia membalas dengan lembut. Bibirnya memang agak tebal dan keras, namun kemudian melemas. Lumatanku mulai berubah menjadi lumatan ganas. Ia melepaskan ciumanku.

Ia menatap mataku dan berbisik, "Pelan saja To.. Kita masih punya banyak waktu. Aku ingin kita bermain dengan lembut!" Kini aku tahu mengapa dari tadi wanita ini tidak mengeluarkan suaranya dengan keras!

Kusingkapkan kausnya. Ia mengangkat kedua tangannya. Dengan mudah kubuka kausnya. Kini tangannya membuka celana panjangku dan kemudian membuka celana pendeknya sendiri. Kini kami tinggal mengenalan pakaian dalam saja. Bra dan celana dalamnya berwarna krem berpadu dengan kulitnya yang sawo matang. Bra-nya seakan-akan tidak cukup memuat buah dadanya sehingga dapat kulihat lingkaran kemerahan di sekitar putingnya. Celananya dari bahan sutra transparan sehingga padang rumput di bawah perutnya terihat membayang.

"Kamu pasti punya banyak koleksi wanita?" tanyanya.

Aku tidak menjawabnya. Aku tahu sebenarnya dia ingin aku mengatakan tidak, namun kalaupun kujawab "tidak" dia juga tidak akan percaya.

"Eehhngng, .." Ia mendesah ketika lehernya kujilati. Kulihat ia melirik bayangan kami di cermin dinding yang besar.

Umi mendorongku ke ranjang dan menindih tubuhku. Tanganku bergerak punggungnya membuka pengait bra-nya. Kususuri bahunya dan kulepas tali bra-nya bergantian. Kini dadanya terbuka polos di hadapanku. Buah dadanya besar dan kencang menggantung di atasku. Putingnya berwarna coklat kemerahan dan sangat keras. Digesek-gesekkannya putingnya di atas dadaku.

Bibirnya yang agak tebal kini semakin lemas dan lincah menyusuri wajah, bibir dan leherku. Ina mendorong lidahnya jauh ke dalam rongga mulutku kemudian memainkan lidahku dengan menggelitik dan memilinnya. Aku hanya sekedar mengimbangi. Kali ini akan kubiarkan Umi yang memegang tempo permainan. Sesekali gantian lidahku yang mendorong lidahnya. Tangan kananku memilin puting serta meremas payudaranya.

Umi menggeserkan tubuhnya ke arah bagian atas tubuhku sehingga payudaranya tepat berada di depan mukaku. Segera kulumat payudaranya dengan mulutku. Putingnya kuisap pelan dan kujilati.

"Aaacchh, Ayo Anto.. Lagi.. Teruskan Anto.. Teruskan". Ia masih tetap menjaga volume suaranya..

Kemaluanku semakin mengeras. Kusedot payudaranya sehingga semuanya masuk ke dalam mulutku kuhisap pelan namun dalam, putingnya kujilat dan kumainkan dengan lidahku. Dadanya bergerak kembang kempis dengan cepat, detak jantungnya juga meningkat, pertanda nafsunya mulai naik. Napasnya berat dan terputus-putus.

Tangannya menyusup di balik celana dalamku, kemudian mengelus, meremas dan mengocoknya dengan lembut. Pantatku kunaikkan dan dengan sekali tarikan, maka celana dalamku sudah terlepas. Kini aku sudah dalam keadaan polos tanpa selembar benang. Bibirnya mengarah ke leherku, mengecup, menjilatinya kemudian menggigit daun telingaku. Napasnya dihembuskannya ke dalam lubang telingaku. Kini dia mulai menjilati putingku dan tangannya mengusap bulu dadaku sampai ke pinggangku. Aku semakin terbuai. Kugigit bibir bawahku untuk menahan rangsangan ini. Kupegang pinggangnya erat-erat.

Tangannya kemudian bergerak membuka celana dalamnya sendiri dan melemparkannya begitu saja. Tangan kiriku kubawa ke celah antara dua pahanya. Kulihat ke bawah rambut kemaluannya tidaklah lebat dan dipotong pendek. Sementara ibu jariku mengusap dan membuka bibir vaginanya, maka jari tengahku masuk sekitar satu ruas ke dalam lubang guanya. Kuusap dan kutekan bagian depan dinding vaginanya dan jariku sudah menemukan sebuah tonjolan daging seperti kacang.

Setiapkali aku memberikan tekanan dan kemudian mengusapnya Umi mendesis, "Huuhh.. Aaauhh.. Engngnggnghhk"

Ia melepaskan tanganku dari selangkangannya. Mulut bergerak ke bawah, menjilati perutku. Tangannya masih mempermainkan penisku, bibirnya terus menyusuri perut dan pinggangku, semakin ke bawah. Ia memandang sebentar kepala penisku yang lebih besar dari batangnya dan kemudian mengecup batang penisku. Namun ia tidak mengulumnya, hanya mengecup dan menggesekkan hidungnya pada batang penis dan dua buah bola yang menggantung di bawahnya. Aku hanya menahan napasku setiap ia mengecupnya.

Umi kembali bergerak ke atas, tangannya masih memegang dan mengusap kejantananku yang telah berdiri tegak. Kugulingkan badannya sehingga aku berada di atasnya. Kembali kami berciuman. Buah dadanya kuremas dan putingnya kupilin dengan jariku sehingga dia mendesis perlahan dengan suara di dalam hidungnya.

"SShh.. Ssshh.. Ngghh.."

Perlahan lahan kuturunkan pantatku sambil memutar-mutarkannya. Kepala penisku dipegang dengan jemarinya, kemudian digesek-gesekkan di mulut vaginanya. Terasa masih kering, tidak lembab seperti wanita yang lainnya. Dia mengarahkan kejantananku untuk masuk ke dalam vaginanya. Ketika sudah menyentuh lubang guanya, maka kutekan pantatku perlahan. Kurasakan penisku seperti membentur tembok lunak sehingga tidak bisa masuk.

Umi merenggangkan kedua pahanya dan pantatnya diangkat sedikit. Kepala penisku sudah mulai menyusup di bibir vaginanya. Kugesek-gesekkan di bibir luarnya sampai terasa keras sekali dan kutekan lagi, namun masih membentur tembok lagi. Umi merintih dan memohon agar aku segera memasukkannya sampai amblas.

"Ayolah Anto tekan.. Dorong sekarang. Ayo.. Please.. Pleasse..!!"

Kucoba sekali lagi. Kembali tangannya mengarahkan ke lubang guanya dan kutekan, meleset dan hampir batang penisku tertekuk.. Ia menggumam dan menarik napas dan melepaskannya dengan kuat, gemas. Didorongnya tubuhku ke samping.

"Sebentar dulu To!" katanya sambil meraih sebuah botol kecil di atas kepala kami.

Kulihat ternyata baby oil. Diambilnya setetes dan diraihnya penisku. Dikocoknya sebentar untuk mengembalikan ketegangannya dan kepala penisku dilumurinya dengan baby oil tadi. Kepalanya yang sudah kemerahan nampak semakin merah dan berkilat.

Ia merebahkan diri lagi dan kutindih sambil berciuman. Kucoba untuk memasukkannya lagi, masih dengan bantuan tangannya, tetapi ternyata masih agak sulit. Akhirnya kukencangkan otot diantara buah zakar dan anus, dan kali ini.. Blleessh. Usahaku berhasil, setengah batang penisku sudah tertelan dalam vaginanya.

"Ouhh.. Umi," desahku setengah berteriak.

Aku bergerak naik turun. Perlahan-lahan kugerakkan pinggulku karena vaginanya sangat kering dan sempit. Kadang gerakan pantatku kubuat naik turun dan memutar sambil menunggu posisi dan waktu yang tepat. Setetes baby oil tadi sangat membantu penisku untuk menerobos seluruh lorong guanya.

Umi mengimbangiku dengan gerakan memutar pada pinggulnya. Ketika kurasakan gerakanku sudah lancar dan mulai ada sedikit lendir yang membasahi vaginanya maka kupercepat gerakanku. Namun Umi menggeleng dan menahan pantatku, kemudian mengatur gerakan pantatku dalam tempo sangat pelan. Untuk meningkatkan kenikmatan maka meskipun pelan namun setiap gerakan pantatku selalu penuh dan bertenaga. Akibatnya maka keringatpun mulai menitik di pori-poriku.

"Anto.. Ouhh.. Apa kataku tadi.. Nikmat.. Ooouuhh. Kamu memang betul-betul perkasa" desisnya sambil menciumi leherku.

Kuputar kaki kirinya hampir melewati kepalaku. Tetapi ia menahan tanganku."Jangan.. Aku tak mau nungging!" bisiknya. Kukembalikan kakinya dalam posisi semula. Kini kedua kakinya kurapatkan dan kujepit dengan kedua kakiku. Penisku hampir-hampir tidak bisa bergerak dalam posisi ini. Tidak ada kontraksi ototnya namun vaginanya terasa sangat sempit menjepit penisku.

Kugulingkan tubuhnya lagi sampai ia menindihku. Kubiarkan ia menjadi sang nahkoda untuk memegang kemudi. Aku ingin mengantarnya sampai menggapai pulau impian. Kakinya keluar dari jepitan kakiku dan kembali dia yang menjepit pahaku. Dalam posisi ini gerakan naik turunnya menjadi bebas. Kembali aku dalam posisi pasif, hanya mengimbangi dengan gerakan melawan gerakan pinggul dan pantatnya.

Tangannya menekan dadaku. Kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Kepalanya terangkat dan tanganku menarik rambutnya kebelakang sehingga kepalanya semakin terangkat. Setelah kujilat dan kukecup lehernya, maka kepalanya turun kembali dan bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang dalam dan lama.

Ia mengatur gerakannya dengan tempo pelan namun sangat intens. Pantatnya diturunkan sampai menekan pahaku sehingga penisku terbenam dalam-dalam sampai kurasakan menyentuh dinding rahimnya. Ketika penisku menyentuh rahimnya Ina semakin menekan pantatnya sehingga tubuh kamipun semakin merapat.

Ia menegakkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi duduk setengah jongkok di atas selangkanganku. Ia kemudian menggerakkan pantatnya maju mundur sambil menekan ke bawah sehingga penisku tertelan dan bergerak ke arah perutku. Rasanya seperti diurut dan dijepit sebuah tang yang kuat namun lunak. Semakin lama-semakin cepat ia mengerakkan pantatnya, namun tidak ada suatu gerakan yang kasar dan menghentak-hentak. Darah yang mengalir ke penisku kurasakan semakin cepat dan mulai ada aliran yang mendesir-desir.

"Ouhh.. Ssshh.. Akhh!" Desisannyapun semakin sering.

Aku tahu sekarang bahwa iapun akan segera mengakhiri pelayaran ini dan berlabuh di pulau impiannya. Aku menghentikan gerakanku untuk mengurangi rangsangan yang ada karena desiran-desiran di mulut penisku makin kencang. Aku tidak mau dikalahkannya. Aku sebenarnya ingin menyelesaikannya dengan posisiku di atas sehingga aku bisa menghunjamkan kemaluanku dalam-dalam. Namun kali ini aku mengalah, biarlah ia yang menekankan pantatnya kuat-kuat.

Setelah beberapa saat rangsangan itu menurun kembali kugerakkan. Kini penisku kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot antara buah zakar dan anusku seolah-olah menahan kencing. Kulihat reaksinya. Ia kembali merebahkan tubuhnya ke atas tubuhku, matanya berkejap-kejap dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Akupun merasa tak tahan lagi dan akan segera menembakkan peluruku. Aku berada pada satu titik dimana aku tidak bisa kembali lagi. No return point. Akhirnya beberapa detik kemudian..

Rintik hujan masih terdengar di atas atap dan dari speaker terdengar Simon and Garfunkel berteriak di akhir lagunya.. Like a bridge over troubled water, I will lay me down..

"Anto.. Sekarang say.. Sekarang.. Hhhuuaahh!" Ia kini memekik kecil.

Pantatnya menekan kuat sekali di atas pahaku. Dinding vaginanya berdenyut kuat menghisap penisku. Aku menahan tekanan pantatnya dengan menaikkan pinggulku. Bibirnya menciumiku dengan pagutan-pagutan ganas dan diakhiri dengan gigitan pada dadaku. Desiran dan aliran yang sangat kuat membersit lewat lubang meriamku. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan kutekankan kepalanya di dadaku. Napas yang bergemuruh kemudian disusul napas putus-putus dan setelah tarikan napas panjang ia terkulai lemas di atas tubuhku.

Denyutan demi denyutan dari kemaluan kami masing-masing kemudian melemah. Spermaku yang masuk dalam vaginanya sebagian tertumpah keluar lagi di atas pahaku. Ia berguling ke sampingku sambil tangan dan mukanya tetap berada di leherku. Kuberikan kecupan ringan pada bibir, dan usapan pada pipinya.

"Terima kasih To. Kamu sungguh luar biasa. Aku sudah mengira kamu sangat perkasa, namun tidak sampai begini nikmat dan indah. Perkasa dan romantis. Thanks". Katanya lembut.

Kami masih berpelukan sampai keringat kami mengering. Setelah mandi dan hendak mengenakan pakaian, Umi menahan tanganku yang sudah memegang celana dalam.

"Kamu tidur disini saja malam ini, please. Besok berangkat dari sini saja. Aku ada kemeja yang ukurannya cocok dengan badanmu. Aku.. Masih..".

Ia tersipu-sipu dan tidak melanjutkan perkataannya. Aku melihat jam dan berpikir sejenak. Ternyata sudah hampir satu jam kami membagi kehangatan. Toh kupikir hujan deras dua jam lebih tadi pasti akan membuat jalan ke arah rumahku kebanjiran.

Ketika kami membersihkan badan di kamar mandi, sempat kulihat benda putih sepanjang kurang lebih 20 cm dan sebesar jempol kaki di atas perlengkapan mandinya. Kuambil dan kuamati. Umi merebutnya dari tanganku dan menyembunyikan di balik tubuhnya. Wajahnya kembali terlihat memerah tersipu.

"Tangan kamu usil deh, nggak bisa lihat barang nganggur!" katanya sambil merengut dan mencubitku.

Hmmhh Tongkat Madura. Pantas saja tadi harus dibantu baby oil, pikirku. Kami masih ngobrol sebentar dan kutanyakan kenapa dia nggak mau doggy style.

"Kata orang nanti kengser. Aku sebenarnya tidak percaya, tapi berjaga-jaga saja. Toh masih banyak posisi yang dapat dilakukan dan dinikmati" katanya. Kengser adalah kondisi rahim yang bergeser turun.
Ketika kutanya pandangannya tentang oral sex ia menjawab, "Aku sendiri tidak suka dan tidak bisa menikmatinya. Paling jauh seperti tadi, tidak sampai mengenyotnya".

Mengenai hubungan sex tadu yang berlangsung dengan tempo pelan ia menyatakan bahwa tidak selalu begitu, kadang juga bisa dengan tempo cepat dan gairah yang panas.

"Boleh dicoba nanti?" pancingku.
"Hmm.." jawabnya sambil mengecup lenganku.

Dimatikannya CD player dan tidak lama tarikan nafas halus dan teratur keluar dari hidungnya. Malam itu kami tidur dengan telanjang dan berpelukan ditutup selimut ditemani dengan suara rintikan hujan. Aku tidak tahu sudah tidur berapa lama ketika kurasakan sebuah lengan melingkar di pinggangku dan sebuah benda padat lunak menekan rusukku. Aku memejamkan mata dan terkejut melihat dimana aku berada. Sedetik kemudian aku tersadar di mana aku sekarang berada.

Umi membuka matanya mengambil arloji di atas kepalanya dan melihat sebentar.

"Hmm.. Baru jam satu, tidur lagi yuk!" katanya sambil memejamkan matanya dan tangannya memelukku kembali.
Kucium ketiaknya dan kugelitikin pinggangnya. Ia menguap dan meregangkan badannya.
"Ooahh, kamu emang..!" Tangannya menangkap tanganku.

Kudaratkan sebuah ciuman pada bibirnya. Ia mengelak dan berdiri berjalan ke arah kulkas di dalam kamarnya. Mengambil air putih, meminum dan mengangsurkannya kepadaku. Aku duduk, kusambut dan kuhabiskan sisa air dalam gelas tadi. Umi masih berdiri dalam keadaan telanjang. Kuamat-amati tubuhnya yang memang aduhai. Pantatnya besar dan menonjol ke belakang, sementara di dadanya ada segunduk daging yang bulat kencang dengan tonjolan coklat kemerahan yang berdiri tegak.

Ia menghenyakkan pantatnya di pahaku. Meraih tombol CD player dan kembali lagu barat lama "A Time for Us" terdengar. Bibirnya mendarat di bibirku. Kali ini ia menciumiku dengan ganasnya. Akupun membalas dengan tak kalah ganasnya. Kuremas buah dadanya dengan keras. Ia mendorongku dan beberapa saat kemudian kami sudah bergulingan di atas ranjang besar yang empuk.

Aku menindih dan menjelajahi sekujur tubuhnya. Ia menggeliat-geliat hebat dan mengerang. Mulutnya mendekat ke telingaku dan berbisik.

"Ouuhh.. Anto.. Sekarang terserah kamu. Aku akan mengimbangi dan mengikutimu, terserah apapun yang akan kau lakukan..".
"Aku akan membawamu ke dalam gelombang lautan percintaan yang dahsyat.." kataku membalas bisikannya.
"Ouhh.. Ter.. Serr.. Rah kamu.. Saja..!"

Dari dada, lidahku pindah ke samping menyusuri pinggul dan pinggangnya, ke arah perut dan pahanya. Aku mencoba untuk mendekatkan hidungku ke sela pahanya, namun tangannya menutupi celah paha tersebut. Umi meronta hebat penuh kenikmatan sewaktu tanganku memainkan puting buah dadanya. Tangannya terlepas dan hidungku kutempelkan di bibir vaginanya. Tercium aroma yang segar dan khas. Namun aku tidak mau memasukkan lidahku ke dalam vaginanya, karena ingat tadi ia berkata tidak bisa menikmatinya. Kulebarkan pahanya dan aku hanya memberikan rangsangan di pangkal pahanya, kemudian turun dan menciumi lututnya. Ketika kugigit lututnya ia mengejang.

"Ampun.. Too.. Antoo.. Jangan.. Cukup.. Cukup!" pekiknya.

Bibirku naik ke leher dan menjilatinya. Elusan tanganku pada pinggangnya membuat ia meronta kegelian. Kuhentikan elusanku dan tanganku meremas lembut buah dadanya dari pangkal kemudian ke arah puting. Kumainkan jemariku dari bagian bawah, melingkari gundukannya dengan usapan ringan kemudian menuju ke arah putingnya. Sampai batas puting sebelum menyentuhnya, kuhentikan dan kembali mulai lagi dari bagian bawah.

Kugantikan jariku dengan bibirku, tetap dengan cara yang sama kususuri buah dadanya tanpa berusaha mengenai putingnya. Kini ia bergerak tidak karuan. Semakin bergerak semakin bergoyang buah dadanya dan membuat jilatanku makin ganas mengitari gundukan mulus itu. Setelah sebuah gigitan kuberikan di belahan dadanya, bibirku kuarahkan ke putingnya, tapi kujilat dulu daerah sekitarnya yang berwarna merah sehingga membikin Umi penasaran dan gemas.

"To.. Jangan kau permainkan aku.. Isep cepetan yang," pintanya.

Aku masih ingin mempermainkan gairahnya dengan sekali jilatan halus di putingnya yang makin mengeras itu. Umi mendorong buah dadanya ke mulutku, sehingga putingnya langsung masuk, dan mulailah kukulum, kugigit kecil serta kujilat bergantian. Tanganku berpindah dari pinggang ke vaginanya yang kini menjadi agak basah. Tidak seperti pada permainan pertama tadi.

Jariku tengah kiriku kumasukkan ke dalam vaginanya dan tidak lama sudah menekan apa yang dicarinya. Lumatan bibirku di puting Umi makin ganas. Ia berusaha mengulingkan badanku tetapi kutahan. Kali ini aku yang harus pegang kendali.

"Aaagh..", ia memekik-mekik. Kuciumi lagi bibir dan lehernya. Adik kecilku makin membesar dan mengganjal tubuh kami di atas perutnya.

Kupikir kini saatnya untuk memberinya. Kuangkat pantatku sedikit dan iapun mengerti. Dikocoknya penisku sampai keras sekali dan ku kangkangkan pahanya lebar-lebar. Tangannya kembali bergerak mencari dan memegang botol baby oil tadi. Kupegang tangannya dan kukatakan, "Jangan dulu yang, coba saja dulu!"

Diarahkannya penisku ke vaginanya dan "Masukin To.. Cc. Cepaat!," pinta Umi sambil semakin melebarkan pahanya. Kudorong sekali namun meleset juga. Kini kucoba kedua kali dan berhasil. Kugerakkan penisku pelan-pelan dan semakin lama semakin cepat. Agaknya perjuangan sekarang lebih mudah daripada saat pertama tadi.

Vagina Umi makin lembab, namun tidak sampai becek. Umi langsung mengerang hebat merasakan hunjaman penisku yang keras dan bertubi-tubi. Tangannya mencengkeram pinggulku. Gerakan maju-mundurku diimbanginya dengan memutar-mutarkan pinggulnya, semakin lama gerakan kami semakin cepat. Kini ia semakin sering memekik dan mengerang. Tangannya kadang memukul-mukul punggungku. Kepalanya mendongak ketika kutarik rambutnya dengan kasar dan kemudian kukecup lehernya dan kugigit bahunya.

"Ouhh.. Ehh.. Yyyeesshh!"

Setelah beberapa lama kuminta dia untuk di atas. Dengan cepat kami berguling. Tak berapa lama kemudian penisku sudah terbenam di liang vaginanya. Umi menaikturunkan pantatnya dengan posisi jongkok. Ia seperti penunggang kuda yang sedang memacu kudanya dalam lembah kenikmatan mendaki menuju puncak. Tubuhnya naik turun dengan cepat dan kuimbangi dengan putaran pinggulku, sementara buah dadanya yang tegak menantang kuremas-remas dengan tanganku. Gerakan kami makin cepat, erangan Umi makin hebat. Aku duduk dan memeluk pinggangnya. Kami berciuman dalam posisi Umi duduk berhadapan di pangkuanku. Aku bebas mengeksplorasi tubuhnya dengan tangan dan bibirku.

"Aaagghh.. Anto..," teriaknya. Kini saatnya kuambil alih kembali kendali permainan.

Kubalikkan tubuhnya dan langsung kugenjot dengan tempo tinggi dan menghentak-hentak. Nafas kami semakin memburu. Kuganti pola gerakanku. Kucabut penisku dan kumasukkan kembali setengahnya. Demikianlah kulakukan berulang-ulang sampai beberapa hitungan dan kemudian kuhempaskan pantatku dalam-dalam.

Umi setengah terpejam sambil mulutnya tidak henti-hentinya mengeluarkan desahan seperti orang yang kepedasan. Pinggulnya tidak berhenti bergoyang dan berputar semakin menambah kenikmatan yang terjadi akibat gesekan kulit kemaluan kami. Lubang vaginanya yang memang sempit ditambah dengan gerakan memutar dari pinggulnya membuatku semakin bernafsu. Ketika kuhunjamkan seluruh penisku ke dalam vaginanya, Umi pun menjerit tertahan dan wajahnya mendongak.

Aku menurunkan tempo dengan membiarkan penisku tertanam di dalam vaginanya tanpa menggerakkannya. Kucoba memainkan otot kemaluanku. Terasa penisku mendesak dinding vaginanya dan sedetik kemudian ketika aku melepaskan kontraksiku, kurasakan vaginanya meremas penisku. Demikian saling berganti-ganti. Aku yakin sebagai seorang instruktur senam ia sangat menguasai gerakan ini.

Permainan kami sudah berlangsung beberapa saat. Kedua kakinya kuangkat dan kutumpangkan di pundakku. Dengan setengah berdiri di atas lututku aku menggenjotnya. Kakinya kuusap dan kucium lipatan lututnya. Ia mengerang dan merintih-rintih.

Lagu dalam CD sudah berganti dengan "Je T'Aime Moi Non Plus" (Sorry Monsieur, if the spelling is not correct!). Suara desahan kedua penyanyinya menambah gairah kami. Aku memberi isyarat kepadanya untuk menutup permainan ini. Kubisikkan.

"Kita selesaikan bersama-sama dengan lagu ini".

Ia pun mengangguk. Kukembalikan dalam posisi normal. Kamipun berpelukan dan bergerak liar tanpa menghiraukan keringat kami yang bercucuran.

Gerakan demi gerakan, pekikan demi pekikan telah kami lalui. Aku semakin cepat menggerakkan pantat sampai pinggangku terasa pegal, namun tetap kupertahankan kecepatanku. Umi menjambak rambutku dan membenamkan kepalaku ke dadanya, betisnya segera menjepit erat pahaku. Badannya menggelepar-gelepar, kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan, tangannya semakin kuat menjambak rambutku dan menekan kepalaku lebih keras lagi.

Aku pun semakin agresif memberikan kenikmatan kepada Umi yang tidak henti-hentinya menggelinjang sambil mengerang.

"Aaahh.. Ssshh.. Ssshh" Gerakan tubuh Umi semakin liar.
"Ouoohh nikmatnyaa.. Aku ingin segera sampai.."

Dari speaker, lagu yang menggambarkan dua orang yang sedang bersetubuHPun sudah hampir mencapai puncaknya.

"Nowww.. Ouhh.. Now.. Ahhkk!"

Aku merasa ada sesuatu yang mendesak-desak di dalam kontolku ingin keluar. Sudah saatnya aku menghentikan permainan ini. Aku mengangguk dan iapun mengangguk sambil memekik panjang, "Ouuwww..!"

Aku mengangkat pantatku, berhenti sejenak mengencangkan ototnya dan segera menghunjamkan penisku keras-keras ke dalam vaginanya. Nafasnya seolah-olah terhenti sejenak dan kemudian terdengarlah erangannya. Tubuhnya mengejang dan jepitan kakinya diperketat, pinggulnya naik menjambut penisku. Sejenak kemudian memancarlah spermaku di dalam vaginanya, diiringi oleh jeritan tertahan dari mulut kami berdua.

"Awww.. Aduuh.. Hggkk"

Kami pun terkulai lemas dan tidak berapa lama sudah tidak ada suara apapun di dalam kamar kecuali intro dari "Top of the World". Tangannya memeluk erat tubuhku dengan mesra.

Ketika pada pagi hari mandi bersama, kugoda dia dengan tongkat maduranya itu. Ia mencubit dan memukuliku. Rupanya dia setiap hari menyodok miliknya dengan tongkat tersebut. Akibatnya jadi terlalu kering. Akhirnya kusarankan untuk menggunakannya dua atau tiga hari sekali. Dan setelah itu aku tidak perlu bantuan baby oil lagi, tetapi rasanya masih keset dan legit. Sedikit lendir memang ada, tetapi hanya untuk sekedar pelumasan.

Aku langsung berangkat ke kantor dari rumahnya. Beberapa bulan kemudian aku masih menikmati tubuhnya. Umi mengerti bahwa hubungan kami ini tidak melibatkan rasa cinta asmara, melainkan sekedar sex just for fun.

Sampai akhirnya perusahaanku mencabut fasilitas fitness karena alasan kondisi keuangan. Lama kelamaan akupun mulai menjaga jarak dan akhirnya aku berpisah dengannya secara baik-baik setelah kami berbicara semalam penuh diselingi percumbuan yang sangat panjang.

*****

Itulah ceritaku mengenai Wanita Indonesia (dari 1- 8). Sebenarnya masih ada beberapa wanita lain, namun kisahnya tidak sehangat yang telah kuceritakan. Dalam rentang waktu sekian lama tersebut aku menjalin hubungan dengan beberapa wanita sekaligus. Kadang ada yang datang dan ada yang pergi. Berikutnya akan kuceritakan kisah-kisahku dengan petualangan lainnya.

Ahh, indahnya pesona wanita Indonesia!

TAMAT